17 Januari 2018 | Edukasia

LENTERA

Generasi Alpha

  • Oleh Erita Yuliasesti

TAKbanyak yang mengetahui tentang Generasi Alpha. Mark McCrindle, konsultan perusahaan dan peneliti masalah generasi di Australia memunculkan istilah tersebut untuk menamai sekelompok generasi yang akan banyak berperan pada masa depan.

Generasi Alpha adalah generasi baru yang lahir setelah generasi X, Y, dan Z, saat ini masih berada dalam periode anak-anak.

Diyakini generasi inilah yang akan memimpin masa depan dengan segala kemampuannya yang telah terbentuk sejak kecil, menguasai teknologi dan aplikasinya sehingga memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya.

Teori generasi dikemukakan oleh Karl Mannheim’s, seorang penemu sosiologi pengetahuan pada tahun 1923. Dia yakin dengan pendapat bahwa keyakinan seseorang dapat dibentuk berdasarkan tipe kelompok yang diikuti orang tersebut.

Teori ini memang lebih cenderung sesuai untuk budaya Barat dan belum dapat menjelaskan aplikasinya untuk budaya yang lebih luas, tetapi banyak diaplikasikan pada 1950-an sampai 1960-an ketika lahir Generasi Baby Boom.

Graeme Codrington menyebutkan, dalam periode kehidupan generasi yang ada dapat dikelompokkan ke dalam beberapa generasi, yaitu Generasi Gi (1900-1920) yang memiliki nilainilai pantang menyerah, stabilitas, dan hierarkhis, Generasi Tenang (1920-1945) yang dipengaruhi masa depresi Perang Dunia yang memiliki karakter konservatif, terstruktur, menyukai aturan, dan pekerja keras.

Lantas Generasi Baby Boomers (1946-1960-an) yang tumbuh pada masa pascaperang dan menyukai kebebasan. Sampai tahun 1970-an, generasi ini banyak memasuki universitas, memberontak generasi sebelumnya, menciptakan kesejahteraan, dan berorientasi tujuan.

Krisis Dunia

Generasi X (akhir 1960-1989) mengalami banyak krisis dunia, perceraian, orang tua lebih sibuk, dan muncul fenomena AIDS. Generasi ini skeptis terhadap perusahaan, tetapi tidak melawan otoritas.

Salah satu ciri khasnya adalah menunjukkan individualitas, nilai-nilai perubahan, kepekaan global, keragaman, bertahan, dan tidak takut kegagalan.

Pada era ini sudah ada PC, disket, video games, TV kabel, dan internet. Generasi Y atau Generasi Milenial (1989-2000-an) yang lahir setelah masa Perang Dingin mulai mengenal globalisasi, teknologi komunikasi melalui telepon pintar, dan koneksi nirkabel.

Media sosial seperti SMS, FB, WA, Twitter dan Instagram mulai digunakan. Generasi ini berkembang sangat cepat, percaya diri dan cenderung arogan, memiliki nilai-nilai optimisme, percaya diri, harga diri tinggi, networkers, prestasi, moralitas, perubahan, warga global dengan perspektif multi.

Generasi selanjutnya lahir pada periode sampai tahun 2010 yang disebut Generasi Z yang diperkenalkan oleh seorang jurnalis Bruce Horovitz pada 2012. Disebut juga i-Generation merupakan peralihan generasi Y dengan teknologi yang makin berkembang.

Sama dengan generasi Y tetapi lebih mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu, akrab dengan gawai sejak kecil, suka berkomunikasi dengan gawai, lebih mandiri dibandingkan dengan generasi lainnya.

Dunia digital adalah gaya hidup, uang dan pekerjaan menjadi prioritas, kurang dalam hal komunikasi verbal, egosentris dan tidak menghargai proses.

Nah, Generasi Alpha yang berada pada masa 2011-2025 dianggap sebagai generasi terkini, sangat terdidik, banyak belajar, tergantung teknologi, dan masuk sekolah lebih awal dibanding generasi sebelumnya.

Setiap minggu 2,5 juta Generasi Alpha lahir. Saat ini generasi tersebut masih berusia anak-anak, tetapi memiliki karakteristik yang sangat berbeda, lebih cepat belajar.

Mereka screenagers yang hidup di depan layar dan calon pemimpin masa depan yang perlu dipersiapkan sejak sekarang agar menjadi pemimpin yang memiliki kompetensi maksimal, memiliki nilai hidup mulia dan beretika.(49)

- Dr Erita Yuliasesti Diah Sari SPsi MSi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Berita Lainnya