image
14 Januari 2018 | Berita Utama

Mencari Para Biduan Berbakat

BERBICARAmengenai ajang pencarian bakat biduan di stasiun televisi swasta di Indonesia, tentu tak bisa melupakan Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Itulah pelopor ajang pencarian bakat biduan pada tahun 2000-an. AFI menjadi ajang sangat fenomenal karena ketika itu mampu menyedot perhatian pemirsa secara luar biasa. Histeria massa selalu muncul setiap kali peserta AFI tampil off air di berbagai kawasan di Indonesia.

AFI bisa dikatakan pemicu banyaknya tayangan pencarian bakat di televisi Indonesia, bahkan sampai saat ini. Diadaptasi dari "La Academia", acara dari Meksiko, semua finalis yang lolos audisi harus menjalani proses karantina. Dalam proses itu, para peserta akan dilatih secara profesional oleh para ahli koreografi, olah vokal, nada, akting, psikologi, dan bahkan bahasa Inggris.

Penayangan grand finalAFI musim kedua mampu meraup rating tertinggi tayangan nondrama. Mendapatkan rating 19 dan share 51 persen, ajang itu bahkan sampai sekarang belum tertandingi. Saat grand finalAFI musim itu yang bersamaan dengan pemilihan presiden, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahkan menonton secara langsung.

Banyak yang menganggap itu salah satu cara kampanye SBY karena ratingAFI sedang tinggi. Sayang, dari ajang itu tak banyak menghasilkan bintang yang mampu bertahan hinggi kini di dunia hiburan. Sebut saja Very Affandi, pemenang pertama musim pertama. Saat ini dia sama sekali tak lagi menginjakan kaki di dunia hiburan. Ia kini mengelola sebuah restoran di Bintaro, Jakarta.

"Ini kehidupan saya sekarang. Jauh dari hiruk-pikuk dunia hiburan. Bagi saya pernah berada dalam keluarga AFI adalah pengalaman tidak ternilai. Semua yang saya alami selama proses karantina dan menjadi pemenang akan menjadi kenangan indah dalam hidup saya," tutur dia. Ia tak menyesal, meski kini tak lagi menghidupi diri dari kemampuan berolah vokal.

Lain Very lain pula nasib Rini Wulandari. Kendati hanya menjadi runner up IV AFI 1, dia mampu mempertahankan diri di dunia hiburan. Sejumlah album telah dia hasilkan dan beberapa menjadi hit di Indonesia. Begitu juga Tika dan Tiwi yang sukses lewat duo T2. Sukses dengan AFI, pada 2008 Indosiar menggelar AFI Junior. Teuku Rizky, personel Coboy Junior, adalah salah satu pemenang AFI Junir 2008.

Dia bergabung dengan Bastian, finalis Idola Cilik. Nama lain adalah Sean yang menjadi juara AFI Junior 3 dan juara kedua Indonesian Idol 2012. Bukan hanya AFI, Indosiar kemudian merilis Mamamia, kontes menyanyi yang mengajak ibu dan anak perempuan bersaing menjadi yang terbaik. Salah satu pemenang yang hingga sekarang masih eksis di dunia hiburan adalah Paramytha Lestari Mulyarto, yang akrab disapa Mytha.

Ia pemenang Mamamia 2007 atau musim pertama. Mamamia hanya mampu bertahan hingga tiga musim, yakni 2007, 2008, dan 2010. Masih ada The Voice Indonesia. Sayang, ajang itu tak terdengar gaungnya. Program itu hanya bertahan satu musim sebelum pindah tayang ke RCTI. Indosiar kemudian beralih genre dengan menggelar ajang pencarian bakat musik dangdut, menyusul MNCTV yang kala itu bernama TPI dengan Kontes Dangdut TPI yang melahirkan nama-nama beken seperti Siti Rahmawati, Selfi, dan Nazar.

Kalau KDI mampu bertahan hingga sembilan musim, Indosiar menggelar DíAcademy hingga musim keempat dan sekarang masih berlangsung, bahkan merambah ke negaranegara lain di Asia lewat DíAcademy Asia. Sukses AFI menginspirasi RCTI menggelar ajang sejenis. Itulah Indonesian Idol mulai 2004, dengan pemenang Joy Tobing dan Delon.

Namun, Joy memilih hengkang dan dia digantikan Delon Thamrin. Kendati kemampuan vokalnya tak menunjukkan peningkatan berarti dari waktu ke waktu, Delon mampu bertahan di dunia hiburan. Namanya masih tetap dikenal dan bahkan dia telah bermain dalam beberapa film.

Pemenang

Indonesian Idol memenangi Pansonic Award katagori music & variety show terbaik dua tahun berturut-turut (2005-2006), mengalahkan AFI serta KDI dalam unggulan yang sama. Regina Ivanova tercatat sebagai pemenang tertua, karena saat itu dia berumur 26 tahun.

Usia yang sama dengan Judika ketika menjadi runner up musim kedua. Sementara, Ihsan Tarore adalah pemenang termuda, yakni 17 tahun saat jadi juara. Setelah musim kelima, acara dihentikan karena rating-nya terus menurun. Pada 2010 RCTI mencoba kembali peruntungan Indonesia Idol. Sayang, Indonesian Idol telah kehilangan pamor. Acara itu tak lagi mampu meraih banyak pemirsa dan vakum pada 2011, digantikan Master Chef Indonesia.

Pada 2014 kembali Indonesian Idol digelar. Namun sekali lagi gagal meraih hati pemirsa di rumah. November 2015 kontrak dengan Fremantle habis dan digantikan The Voice Indonesia yang semula gagal meraih popularitas di Indosiar. Bukan hanya kontes menyanyi yang digelar stasiun televisi swasta di Tanah Air. MNCTV pernah pula menggelar ajang pencarian bakat di dunia lawak.

Rina Nose dan Sule yang sukses menembus dunia hiburan hingga kini berkat ajang Audisi Pelawak TPI, saat itu. Trans TV tak ketinggalan dengan menayangkan Indonesia Mencari Bakat. Pada ajang itu bukan hanya bakat menyanyi yang dilombakan, melainkan juga berbagai jenis seni pertunjukan lain. Antara lain menari, akrobat, melawak, bahkan aksi sulap. Masih ada ajang pencarian bakat di dunia sulap di RCTI yang menghasilkan Limbad sebagai pemenang. Kini, dia pun masih eksis di dunia hiburan.

"Ajang pencarian bakat seperti itu hanya jembatan. Pertarungan sesungguhnya justru dimulai setelah kita selesai mengikuti acara itu. Apakah mampu mempertahankan diri di dunia entertainment atau tergerus waktu," ujar Judika. Dia bersyukur mampu terus bertahan menjadi penyanyi hingga kini. Dia menyatakan tak mudah menaklukkan diri sendiri ketika masih berada pada ajang pencarian bakat ketika itu. Jadwal yang ketat antara berlatih hingga jadwal pertunjukan setiap minggu, kata dia, sangat menekan.

Namun berkat dorongan keluarga, dia mampu bertahan dan keluar sebagai juara kedua ketika itu. "Karena berada pada ajang itu, kita jadi memiliki jalan berkenalanan orang-oirang yang memiliki pengaruh di dunia hiburan. Tergantung pada bagaimana kita memanfaatkan link itu agar bisa terus bertahan di panggung musik Tanah Air. Kuncinya terus mencari, berlatih, dan berusaha memberikan yang terbaik," ucap Judika.(Tresnawati-44)

Berita Lainnya


SMCETAK TERKINI