image
14 Januari 2018 | Sehat

Jangan Sepelekan Cegukan

Anda pasti pernah mengalami cegukan. Meski hanya berupa suara “hik” yang keluar dari mulut, terkadang membuat kita tidak nyaman dan bisa mengganggu aktivitas. Mengapa kita bisa mengalami cegukan? Hal ini terjadi ketika ada kejang pada diafragma, yakni otot yang memisahkan rongga dada dan perut. Kejang ini menyebabkan asupan nafas secara tiba-tiba berhenti pada penutupan pita suara (glottis).

Penutupan ini yang menyebabkan kita cegukan atau mengeluarkan suara ”hiccup” atau ”hik”. Usia berapa pun bisa mengalami cegukan, termasuk bayi. Ada dua jenis cegukan, yakni cegukan biasa alias bukan karena penyakit dan cegukan karena menderita penyakit tertentu. Cegukan biasa terjadi hanya beberapa menit atau sekitar satu jam.

Penyebab cegukan biasa antara lain karena jenis makanan atau minuman yang mengiritasi, seperti makanan pedas, minuman bersoda, beralkohol, dan durian. Bisa juga karena makan terlalu banyak, makan terlalu cepat, menelan makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin, rokok, dan perut kembung. Selain itu, cegukan juga bisa dipicu emosi.

Misalnya ketika gembira, sedih, stres atau cemas. Cegukan biasa bisa hilang dengan sendirinya. Namun beberapa hal bisa Anda lakukan untuk menghilangkannya. Yakni minum, menahan nafas selama beberapa detik atau bernafas dalam kantong kertas. Cegukan juga dikatakan bisa dihilangkan dengan cara dikagetkan. Ini karena ketika seseorang sedang kaget. Hal tersebut mampu menstimulasi otototot yang terlibat dalam cegukan.

Menurut LiveScience, ketika kaget ada stimulasi simpatetik yang berujung pada menghilangnya cegukan. Mengejutkan seseorang akan menyetel ulang pola nafasnya, sekaligus menimpa stimulus pada sistem saraf simpatetis, mengurangi sekresi pencernaan, mempercepat detak jantung, dan mengontraksi saluran darah.

Ke Dokter

Bagaimana dengan cegukan karena penyakit? Ada beberapa jenis penyakit yang bisa menyebabkan penderita mengalami cegukan. Antara lain gangguan pencernaan seperti radang usus, obstruksi usus, dan GERD (refluks gastroesofagus). Gangguan pernafasan seperti pleuritis, pneumonia, dan asma. Kemudian gangguan metabolisme seperti hipoglikemia, hiperglikemia atau diabetes.

Gangguan pada saraf vagus seperti dalam kasus meningitis, faringitis, dan penyakit gondok. Gangguan sistem saraf seperti cidera berat pada otak, radang jaringan otak atau ensefalitis, tumor, dan stroke. Bisa juga karena permasalahan psikis seperti gangguan cemas, stres atau syok. Beberapa jenis obat-obatan pun bisa menyebabkan cegukan. Seperti obat-obatan kemoterapi, golongan benzodiazepin, dan kortikosteroid.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, cegukan biasanya terjadi selama beberapa menit atau jam dan akan hilang dengan sendirinya. Namun, Anda wajib waspada dan segera ke dokter bila cegukan sering terjadi dan berlangsung terus-menerus hingga lebih dari 48 jam. ”Kalau cegukan terjadi lebih dari 48 jam, harus diperiksa. Sebab, bisa jadi mengalami spasmofilia atau otot yang gampang tegang atau kram. Hal ini terjadi biasanya karena stroke,” jelas dr Elta Diah, SpS dari RSUP dr Kariadi Semarang.

Lebih lanjut ia menjelaskan, terapinya bisa dengan mengonsumsi obat-obatan untuk memblok saraf kesepuluh. Yakni obat-obatan untuk melemaskan otot, terkadang memberikan obat kejang. Namun yang perlu Anda ketahui, tidak semua pasien stroke mengalami keluhan cegukan. Begitu pula sebaliknya, bila Anda mengalami cegukan berulang-ulang atau sering, bukan berarti berpotensi menderita stroke. Cegukan terdengar sepele dan tidak berbahaya.

Namun cegukan sangat mengganggu (bila terjadi secara terus-menerus), karena bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan di saat tidur. Jadi, bila cegukan terjadi lebih dari 48 jam, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter (Irma Mutiara Manggia-58)

Berita Lainnya