image

SM/dok

31 Desember 2017 | Bincang-bincang

Muhammad Taufiqurrohman: Jika Alam Disakiti Manusia pun Sakit

Banyak folklor berbasis kesadaran ekologis bahwa seyogianya manusia hidup selaras dengan alam. Kini, apa makna strategis folklor macam itu? Berikut perbincangan wartawan Suara Merdeka Gunawan Budi Susanto dengan Muhammad Taufiqurrohman, pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto peneliti folklor.

Apakah definisi folklor itu?

Istilah folklor berasal dari bahasa Inggris folklore. Gabungan folk dan lore. Folk berarti sekelompok orang berciri pengenal fisik, sosial, dan budaya sebagai pembeda dari kelompok lain. Penanda fisik bisa warna kulit atau rambut. Penanda sosial misalnya pencaharian, tingkat pendidikan, kegiatan. Penanda budaya adalah bahasa, agama, dan sebagainya.

Lore dari bahasa Inggris kuno lar yang berarti pengetahuan. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan folklor sebagai adat-istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan turun temurun, tetapi tak dibukukan. Folkloris mendefinisikan sekumpulan kepercayaan, adat-istiadat, dan ekspresi budaya tradisional yang dilestarikan dan tersebar dari mulut ke mulut.

Berupa apa sajakah folklor itu?

Ada tiga kategori dasar folklor: verbal, material, dan adat/kebiasaan. Folklor verbal meliputi tradisi berupa katakata, yang bisa dirangkai dengan musik, tersusun secara kronologis seperti cerita, atau bisa semacam kegiatan atau kepercayaan yang dinyatakan dengan kata-kata. Contohnya lagu, mitos, dan cerita rakyat. Beberapa ekspresi verbal dalam permainan, peribahasa, dan teka-teki masuk kategori itu.

Folklor material bisa bermacam bentuk, bersifat permanen atau temporer. Folklor material permanen, misalnya, arsitektur dan berbagai peralatan. Bersifat temporer adalah makanan, body painting, dan ornamen. Folklor material permanen dan temporer tangible, dapat disentuh, dilihat, dimakan, atau dihuni.

Folklor adat/kebiasaan merupakan tindakan/perilaku berulang dan terpola; partisipasi seseorang menunjukkan keanggotaan dalam kelompok itu. Pengelompokan genre folklor bersifat dinamis dan tak terpisah satu dan yang lain.

Ekspresi folklor bisa melibatkan ketiga genre itu. Contohnya, perayaan dapat melibatkan folklor verbal (nyanyian dengan musik), folklor material (makanan dan tempat khusus), dan folklore adat/kebiasaan (kepercayaan/nilai yang dianut pengikut perayaan itu).

Bagaimana proses penciptaan dan kemunculan folklor di masyarakat?

Sebagian besar orang acap mengartikan folklor sebagai tidak faktual atau tidak nyata; cuma cerita atau kepercayaan kuno. Pemahaman itu diikuti pembatasan kajian folklor hanya pada kebudayaan masa lampau atau kontemporer kelompok yang dianggap kurang berpendidikan, kurang beradab, atau primitif. Martha C Sims dan Martine Stephens, dalam Living Folklore, meluruskan pemahaman yang salah itu.

Mereka menyatakan folklor tak selalu kuno dan tidak faktual. Folklor hidup, terus berkembang, dan berubah sepanjang masa. Setiap orang mengalami dan berbagi folklor. Manusia terus-menerus menciptakan dan memperbarui folklor dalam kehidupan masa kini. Folklor bukan peninggalan masa lampau, melainkan ekspresi permasalahan ”kekinian”.

Bagaimana folklor terinternalisasi sehingga membentuk nilai-nilai yang diugemi?

Folklor masa lalu merupakan cerminan permasalahan ”kekinian” saat itu. Folklor bisa jadi relevan pada masanya, tetapi kini tidak atau kurang relevan dan menuntut pembaruan sesuai dengan konteks zaman. Itulah fungsi folklor sebagai memori kultural masyarakat.

Internalisasi folklor sebagai bagian dari memori kultural bermula dari pencarian ekspresi atas permasalahan sehari-hari. Selain bentuk peneguhan identitas diri, folklor mudah terinternalisasi jika langsung berkait dengan kondisi material masyarakat, khususnya aspirasi soal kehidupan ideal.

Adakah folklor ekologis, yang mengandung kesadaran pelestarian alam atau nilainilai keselarasan hidup antara manusia dan alam?

Ada. Banyak. Hampir sebagian besar folklor di dunia masa pramodern mengandung pesan keselarasan antara manusia dan alam. Itu folklor ekologis.

Mengapa? Masyarakat pramodern, bahkan di Eropa dan Amerika Serikat, punya hubungan selaras dengan alam seperti di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Manusia dan alam hidup selaras, saling melengkapi. Hubungan yang setara, saling dukung eksistensi masing-masing.

Antroposentrisme modern yang memandang manusia sebagai pusat semesta membuat hubungan keduanya eksploitatif. Manusia sebagai pusat menaklukkan, alam sebagai subordinat harus tunduk dan melayani kepentingan dan kekuasaan manusia yang tak terbatas.

Konteks globalnya, gempuran ideologi developmentalisme atau pembangunanisme yang jadi langgam wajib di dunia, termasuk Indonesia. Developmentalisme bertujuan menggerakkan masyarakat tradisional menuju keserbamodernan ala Barat. Sayang, yang diambil hanya sisi-sisi gelap kemodernan Barat.

Bentuk paling kasatmata, pembangunanisme berwujud mal, hotel berbintang, gedung pencakar langit, megatol, perusahaan multinasional, bandara raksasa, pembangkit listrik tidak ramah lingkungan. Semua itu mensyaratkan harga amat mahal: eksploitasi sumber daya alam tak ramah lingkungan.

Secara filosofis, developmentalisme disokong positivisme yang memaksakan paradigma ilmu pengetahuan alam ke ilmu sosial humaniora. Hasilnya, ilmu sosial humaniora jadi sangat berjarak dari realitas sosial dan miskin empati terhadap problem kemanusiaan.

Masyarakat ilmiah tak memperhatikan, membela, dan mendukung tradisi semacam folklor dan masyarakat pendukung yang terdampak pembangunanisme. Sebab, rezim pengetahuan yang dominan langsung atau tidak justru mendukung pemusnahannya atas nama gerak pembangunan.

Cerita soal folklor ekologis yang memunah adalah kisah penghancuran besar-besaran rezim developmentalisme Barat terhadap segala rintangan menuju sisi gelap kemodernan Barat. Tradisi adalah rintangan paling berat dan masif untuk dihancurkan, dan folklor ada di sana.

Apa contoh folklor ekologis dan dari kawasan manakah?

Folklor ekologis di masyarakat asli Amerika relatif sama dengan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Mitos soal pohon besar berpenunggu sebagai mekanisme kultural menjaga lingkungan dapat ditemukan merata di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, kita temukan folklor ekologis hampir di seluruh penjuru negeri.

Misalnya, tradisi sedekah bumi atau sedekah laut. Hampir semua daerah punya tradisi tahunan itu sebagai wujud syukur atas karunia Tuhan berupa alam yang subur dan hasil laut melimpah. Berbagai folklor lain bertujuan sama: merawat bumi, menjaga keselarasan manusia dan alam.

Bagaimana folklor ekologis efektif menumbuhkan kesadaran menjaga (kelestarian) alam?

Pertama, menyadari folklor selalu terbuka untuk dimaknai ulang sesuai dengan konteks zaman, hingga lahir folklor yang lebih mampu menjawab tantangan dan kebutuhan zaman. Kedua, keberanian menciptakan folklor baru yang menyerap semangat purba menjaga alam dan lingkungan.

Itu telah dipraktikkan petani Pegunungan Kendeng Utara yang mereinvensi folklor dengan menciptakan kidung baru, seperti kidung ”Ibu Bumi”:Ibu Bumi wis maringi/Ibu Bumi dilarani/Ibu Bumi kang ngadili. Dengan memersonifikasikan alam sebagai ibu, folklor itu menyampaikan pesan amat terang: seperti manusia, alam punya perasaan; merintih bila dilukai dan melawan dengan mengadili.

Jika positivisme mengalamkan manusia, menganggap manusia sebagai alam yang tak berperasaan, pascapositivisme yang menolak developmentalisme Barat justru memanusiakan alam; alam sebagai bagian tak terpisahkan dari kemanusiaan. Alam disakiti, manusia yang tak mungkin hidup tanpa alam semestinya juga merasakan sakit.

Apakah folklor itu bisa jadi peneguh upaya pelestarian alam?

Ya. Masyarakat tradisi telah mempraktikkan mekanisme kontrol pelestarian alam melalui folklor ratusan tahun. Kini tugas kita mereinvensi berbagai folklor itu agar kontekstual dan serius mempelajarinya sebagai media peneguh pelestarian alam sekaligus tawaran alternatif pembangunan yang lebih manusiawi terhadap alam dan lingkungan.(44)