image

MENYELAMATKAN DIRI: Kepala sekolah dan para guru memberi instruksi kepada para siswa untuk menyelamatkan diri dalam simulasi bencana gempa dan potensi tsunami di SDN Darat, Karangwuni, Wates, Kulonprogo, Rabu (14/2). (suaramerdeka.com/Panuju Triangga)

14 Februari 2018 | 21:54 WIB | Suara Kedu

SDN Darat Dijadikan Sekolah Siaga Bencana

KULONPROGO, suaramerdeka.com– Berada di wilayah berpotensi bencana gempa dan tsunami, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Darat di Desa Karangwuni, Kecamatan Wates, Kulonprogo ditetapkan menjadi sekolah siaga bencana (SSB), Rabu (14/2). Penetapan dilakukan oleh Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, dan dihadiri antara lain oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kulonprogo, serta Ketua DPRD Kulonprogo.

Penetapan didahului dengan simulasi kejadian bencana gempa bumi berpotensi tsunami saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di kelas. Selanjutnya disimulasikan langkah-langkah penyelamatan diri para siswa dan warga sekolah serta proses evakuasi ke tempat yang aman. “Cara menyelamatkan diri dengan berlindung di bawah meja. Kalau gempa sudah selesai, keluar dari kelas melindungi kepala dengan tas. Kalau terjadi bencana insyaAllah sudah siap,” kata salah satu siswa kelas VI, Apriliana Rahmawati.

Menurut Bupati Hasto pembentukan sekolah siaga bencana penting untuk SD-SD yang berada di wilayah pesisir. Saat ini sudah ada tiga SD di wilayah pesisir selatan yang ditetapkan sebagai sekolah siaga bencana yakni SD Jangkaran di Kecamatan Temon, SD Trisik di Kecamatan Galur, dan SD Darat di Kecamatan Wates.

“Saya memang menginginkan yang ada di daerah pesisir ini anak-anak muda, generasi muda, dan sekolah harus dilatih tanggap siaga bencana. Kita tahu bencana tsunami tidak bisa kita hindarkan dari resiko yang ada di daerah pantai di pesisir selatan pulau Jawa. Jadi harus punya kesiap siagaan,” katanya.

Hasto berencana semua SD yang ada di kawasan pesisir dijadikan sebagai sekolah siaga bencana. Untuk itu pihaknya meminta BPBD dan Dinas Pendidikan Kulonprogo agar sekolah-sekolah di kawasan pesisir ekstrakurikuler wajibnya diarahkan untuk ada kemampuan berlatih tanggap siaga bencana.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana mengatakan, pembentukan sekolah siaga bencana merupakan salah satu metode untuk membangun kesiapsiagaan, di samping desa tanggap bencana. Dengan metode itu, semua komponen dilakukan berbagai upaya seperti sosialisasi, bimtek, dan gladi, serta membangun sarananya seperti tempat berkumpul ketika terjadi bencana.

“Juga menjadi penting kita mengedukasi anak-anak agar mempunyai kesadaran dan budaya untuk tanggap tangguh terhadap bencana. Karena bagaimanapun kita berada di lingkungan yang di utara ada Merapi, di selatan ada laut dan gempa. Sehingga kuncinya pada kesiapsiagaan dan ketangguhan,” katanya.

Kepala SD Darat, Asrini mengatakan, sekolah yang dipimpinnya berada di wilayah rawan bencana tsunami karena hanya berjarak 1 km dari pantai. Oleh karena itu, sekolahnya diharapkan dapat mengurangi risiko dan dapat mengatasi kesulitan bila terjadi risiko terburuk bila terjadi bencana.

“Kami lakukan dengan mengimplementasikan dalam pembelajaran, sehingga siswa bisa melakukan tindakan yang tepat,” imbuhnya. 

(Panuju Triangga /SMNetwork /CN40 )