image

LAGU NASIONAL: Salah seorang peserta aksi solidaritas untuk Yogyakarta menyanyikan lagu Indonesia Pusaka di pelataran Gereja St Theresia, Jalan Puspowarno Raya No 9 Semarang, beberapa waktu lalu. (suaramerdeka.com/Siswo Ariwibowo)

13 Februari 2018 | 23:18 WIB | Semarang Metro

Ajaran Kasih Sayang Sudah Jarang Didengungkan

SEMARANG, suaramerdeka.com- Dewasa ini, ajaran tentang kesantunan dan kasih sayang hampir jarang ditemui di tengah-tengah masyarakat atau pun di ceramah-ceramah keagamaan. Sebaliknya, yang ada ialah ujaran-ujaran kebencian yang hampir menghiasi berbagai dinding media sosial, padahal, kasih sayang menjadi salah pondasi dalam tatanan agama Islam. Hal itu disampaikan Syaikh Aun bin Muin Al Qadumiy, salah satu ulama dari Yordania saat memberikan kuliah umum kepondokan di Masjid Jami Ulul Albab, kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) beberapa waktu lalu.

Sekh Aun menjelaskan, Nabi Muhammad SAW diutus kedunia untuk alam semesta, tidak hanya untuk manusia. Dalam memandang segala sesuatu, Nabi Muhammad selalu diiringi dengan kasih sayang. "Ilmu rahmat (kasih sayang) sangat penting, tetapi saat ini jarang dijumpai di khutbah-khutbah keagamaan mau pun di tengah-tengah masyarakat. Yang ada justru ujaran kebencian menghiasi media sosial," kata Sekh Aun.

Ditambahkannya, bagaimana pun kasih sayang selalu disampaikan dengan cara yang hikmah (cara-cara yang bijaksana). Sebab, itulah pangkal ilmu yang dibawa Nabi Muhammad di dunia ini. Diakhir tausyiahnya, Sekh Aun mengajak hadirin agar selalu menebarkan kasih sayang kepada siapapun dan dengan apa pun.

Terpisah, salah satu tokoh Gereja Kristen Jawa Tengah, Pendeta Wipro Pradipto, saat menghadiri acara aksi solidaritas di Gereja Bongsari, Semarang Barat mengatakan, perlu adanya kajian ulang yang mendalam tentang penafsiran kitab dari suatu agama. "Yang bahaya adalah muncul penafsiran anti sosial, anti keharmonisan. Padahal kita sama-sama manusia yang hidup berdampingan," kata Wipro Pradipto.

Menurutnya, konsep dasar Agama adalah Ageman (sesuatu untuk memperindah kehidupan-red). "Seharusnya suasana surga itu dibumikan, bukan sebaliknya, kondisi bumi malah disyurgakan. Yang ada pasti klaim kebenaran. Salah satu dampaknya saling mengkafirkan. Munculnya penafsiran antisosial dari mana? dari salahnya penafsiran dan doktrin agama tertentu. Antisosial itu akibatnya. bukan penyebabnya," ujarnya. 

(Siswo Ariwibowo /SMNetwork /CN40 )