image

Ruang dalam bangunan Joglo Saridin yang teduh dengan suasana kejawen. (suaramerdeka.com/ dok)

09 Februari 2018 | 18:08 WIB | Liputan Khusus

Menemukan Hakikat Jawa di Kampoeng Djowo

Oleh Bambang Isti

MISTIS
ternyata tidak berkonotasi mistik. Itulah atmostfer ketika orang masuk ke Kampoeng Djowo, sebuah resor wisata yang terletak di sebelah tenggara Kabupaten Kendal, persisnya di Desa Margosari, Kecamatan Limbangan. Berada di ketinggian sekitar 400 mdpl, bisa ditempuh sekitar 40 km dari Semarang dan 20 km dari Kaliwungu. Tapi akan lebih dekat lagi dari Kecamatan Mijen hanya sekitar 7 km.

Kampoeng Djowo tiba-tiba menjadi dikenal orang, padahal semula hanya berupa kolam pancing pada awal tahun 200-an lalu. Tapi kemudian dikembangkan lagi menjadi resto, tempat istitahat, dan akhrnya didirikan banyak bangunan joglo, sehingga di sini orang akan masuk ke suasaan jawa yang sebenarnya.

Suasana jawa itu mungkin saat ini tidak pernah ditekmui  di lingkungan rumah sendiri sekali pun. Sehingga tidak berlebihan jika Bambang Sadono, anggota DPR-RI pernah mengkhawatirkan orang jawa sekarang ini telah kehilangan kejawaannya. Karena orang jawa sudah lupa dengan kejawannya.

Lantas apa yang ditawarkan oleh respor wisata Kampung Jowo dengan kejawaannya? Lihat saja bangunan  yang berarsitetur berbentuk joglo dengan unsur kayu. Lalu semua parabotan yang mengisi ruangan bangunan itu adalah kursi, meja, lemari, bahkan tempat tidur kuno berkelambu.

Tempat tidur? Ya, karena Kampung Jowo dalam berkembangannya juga kenyediakan sarana akomodasi untuk keluarga dan rombongan. "Hal tu karena melihat anomi pengunjung yang meminta kami untuk menyediakan sarana akomodasi, karena memang banyak pengunjung yang setelah melakukan kegiatan outbound, kelelahan," kata Elly Rusmilawati, Manejer Operasional Kampoeng Djowo, ditemui pekan lalu.

Arena panahan

Lantas sarana ourbound apa saja yang disediakan oleh pengelola Kampoeng Djowo?

Dari luasnya yang 12 hektare, tiga hentare diantaranya dibiarkan tersisa untuk lahan pertanian dan perkebunan, maka Kampoeng Djowo pemiliki sarana wisata luar ruang (outbound) yang cukup representatif.

"Di sini kami kenyediakan permainan seperti membajak sawah, permainan air, memancing, arena panahan, flying fox, dan akan segera beroparasi adalah permainan berburu (semacam hashing," kata Elly.

Tempat ini sangat murah dengan air, karena di setiap sudut terdedia kamar mandi dan toilet dengan air yang tak pernah berhenti mengucur deras. Maklum saja, kara air ini erasaldari sumber kata air yang jaraknya sekitar 40 meter dari Kampoeng Djowo. "Sumber kata air bersejarah yang seolah tidak pernah kekeringan dan selalu memberi keberkahan warga sekitar," kata Elly.

Orang pasti akan menemukan suasana yang berbeda jika sudah memasuki resor wisata ini. Di Kampoeng Djowo yang sering disebut juga sebagai Kampung Sekatul ini disediakan 25 bangunan kayu berbentuk joglo. Bangunan-bangunan ini fungsinya beragam, misalnya untuk restoran, dangau (semacam gubuk untuk makan secara lesehan), juga untuk penginapan bernama Joglo Gethuk (disebut "gethuk" karena terdapat banyak kamar layaknya irisan gethuk), serta satu bangunan lagi digunakan untuk keguatan menari jawa dan menyimpan gamelan dan benda-benda bersejarah dengan nama Joglo Saridin.

Benda-benda itu antara lain gamelan Kemenak, kereta kencana, tombak, dan perabotan kuno. Ketika orang akan memasuki ruang Jolgo Saridin ini, perlu tata krama dan menata batinnya agar bisa meresapi keagungan budaya jawa. "Di Joglo Saridin ini tiap hari minggu dipakai untuk latihan karawitan dan menari," lanjut Elly Rusmilawati.

Di Joglo Saridin inilah, orang akan mandapatkan atmosfer kejawen yang sangat kuat. Bangunan yang digunakan sebagai komunintas pemerhati budaya jawa Surakarta.

Demi melihat keberadaan Kampoeng Djowo atau Kampung Sekatul ini, orang tampaknya tidak khawatir lagi akan kemungkinan tercerabutnya budaya jawa dari masyarajat moderen sekarang ini. Jadi untuk menemukan kembali atmosfer jawa, maka datanglah ke Kampoeng Djowo.

(Bambang Isti /SMNetwork /CN41 )