image

Nuredi Yuniarso. (suaramerdeka.com/Supriyanto)

14 Januari 2018 | 20:00 WIB | Suara Kedu

Cara Atasi Kemiskinan Menurut Motivator Nuredi Yuniarso

KEBUMEN, suaramerdeka.com- Tingginya angka kemiskinan di Kebumen membuat prihatin berbagai pihak. Tak sekadar prihatin, Nuredi Yuniarso seorang motivator nasional kelahiran Kebumen turut memberikan solusi untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi bagi warga kabupaten berslogan Beriman.

Menurut Nuredi, untuk mewujudkan kesejahteraan warga, pemerintah bukan melulu menggelontorkan program bantuan finansial kepada keluarga pra sejahtera. Sebab, tanpa diimbangi perubahan mental masyarakat, program bantuan yang menelan anggaran hingga miliaran rupiah hanya menguap tak berbekas.

"Tanpa perubahan mental masyarakat, bantuan semakin banyak pun tak akan mengurangi jumlah warga miksin. Yang ada jumlah warga yang bermental miskin semakin banyak," ujar Nuredi Yuniarso kepada suaramerdeka.com, MInggu (14/1).

Pemimpin NY Training & Consulting Bandung itu melihat adanya kecenderungan bahwa menerima bantuan justru memunculkan kebanggaan tersendiri. Bahkan di alam bawah sadar penerima bantuan itu akan menggantungkan bantuan dari orang lain. Jika itu terjadi terus menerus, bantuan itu menjadi sebuah kebutuhan bahkan menjadi candu.Penerima bantuan akan kesulitan lepas dari bantuan.

"Kalau sudah seperti ini. Untuk menuju level sejahtera agak berat. Padahal untuk mencapai kesejahteraan, perlu kesadaran tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain, tetapi tergantung kepada diri sendiri. Mau nggak hijrah dari posisi pra sejahtera menuju sejahtera," kata pria kelahiran 1964 tersebut menyebutkan kekuatan terbesar untuk hijrah berasal dari diri sendiri.

Alumnus SMA 1 Kebumen dan Undip Semarang itu menambahkan, jika setiap hari, orang menstempel dirinya sendiri bahwa dirinya miskin, tidak bisa apa-apa dan butuh bantuan pemerintah, sampai kapan pun dia tidak akan berubah nasibnya. "Tantangan saat ini adalah bagaimana membangun kesadaran masyarakat agar tidak mengandalkan bantuan dari pihak lain termasuk pemerintah," katanya.

Kesadaran Mental

Mencermati angka kemiskinan di Kebumen yang tertinggi kedua di Jateng, justru membuat mantan bankir yang tinggal di Cimahi Bandung itu bertanya-tanya. Apakah Kebumen dengan sumber daya alam dan potensinya benar-benar tidak bisa mencukupi kebutuhan warganya, atau karena masyarakat yang tidak bisa menggali, mengolah dan mengoptimalkan potensi untuk mencukupi.

"Untuk bisa maju, seseorang perlu fokus pada apa yang dimiliki, bukan apa-apa yang tidak dimiliki. Jika terus berpikir sesuatu yang tidak dimiliki, kita tidak akan ke mana-mana," kata pria yang berpengalaman menjadi pembicara di seluruh Indoensia tersebut.

Memang tidak untuk membangun kesadaran mental masyarakat yang mandiri. Maka Nuredi memberikan gagasan program  Motivator Penggerak Pembangunan Pedesaan (MP3). Tiap desa minimal dibentuk 10 motivator untuk mendampingi masyarakat dalam melakukan perubahan pola pikir negatif menjadi pola pikir positif. Program ini bertujuan salah satunya membantu program pemerintah dalam percepatan pembangunan mental spiritual agar masyarakat siap melakukan perubahan dan berkarya lebih nyata untuk kemajuan sosial ekonomi.

"Dengan terbukanya wawasan, pola pikir masyarakat akan mendukung percepatan pembangunan sosial ekonomi/pengentasan kemiskinan," ujar motivator handal yang dijuluki Maestro Change Life itu siap membantu menumbuhkan masyarakat Kebumen yang berpikir positif. 

(Supriyanto /SMNetwork /CN40 )