image

Foto: Koleksi Tropen Museum

16 Desember 2017 | 07:32 WIB | Pringgitan

Membedah Rahasia Wanita Jawa

Wanita Jawa kerap diidentikkan dengan karakter tutur kata yang halus, tenang, pasrah, kalem, tidak suka berkonflik, sopan, mampu mengendalikan diri, memiliki daya tahan tinggi untuk menderita, serta loyal atau setia. Wanita Jawa juga dikenal mampu menerima segala situasi bahkan yang terpahit sekalipun. Mereka pandai memendam pendeitaan dan pintar pula memaknainya.

Namun di balik penampilan wanita Jawa yang kalem, patuh dan sabar, tidak berarti ia bisa diperlakukan sekehendak hati suami. Sebab istri mengerti kelemahan dan mengagumi kekuatan suami. Tak mengherankan jika ki dalang mengajarkan, wanita adalah kesaktian laki-laki. Oleh karena itu, Arjuna dan para ksatria lainnya berhasrat merebut wanita. Semakin banyak wanita yang dikecup, konon makin menambah kesaktian.

Dalam kehidupan rumah tangga, seorang istri terbukti mampu menjadi pelindung bagi suami. Kemampuan istri Jawa untuk menjadi pelindung atau menjadi kejayaan suami, terletak pada kemampuannya untuk cancut tali wanda saat keluarga dalam kesulitan. Kesediaannya untuk menderita atas kepentingan suami maupun anaknya menjadi landasan cancut tali wanda. Dalam konteks ini, wanita mempunyai arti "wani tapa" (berani bertapa), seperti halnya ia berani mengandung bayi selama sembilan bulan.

Wanita juga berperan penting dalam menentukan arah dan kebijakan dalam keluarga karena ada anggapan "apiking suami gumantung istri, apiking anak gumantung ibu". Selain itu, pelaksanaan peran ini juga dilandasi oleh konsep "swarga nunut neraka katut".

Jika karir atau nasib suami buruk, mengalami masalah berat (yang dimaknai sebagai "neraka") maka istri akan terbawa dalam kesulitannya. Oleh sebab itu seorang istri terus berusaha keras agar garis hidup suami tetap terjaga baik (yang dimaknai sebagai "swarga").

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )