image

Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo, Junaedi memberikan arahan kepada kepala puskesmas di aula dinas setempat. (suaramerdeka.com/ M Abdul Rohman)

24 Januari 2018 | 14:24 WIB | Ibu dan Anak

Tinggi, Angka Kematian Ibu dan Bayi di Wonosobo

  • Peran Bidan Desa Perlu Dimaksimalkan

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Angka kematian ibu dan bayi di Wonosobo sepanjang 2017 terbilang tinggi. Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo mencatat, angka kematian ibu mencapai 10 kasus, sementara kematian bayi mencapai 130 kasus.

Masih tingginya kasus kematian pada ibu dan bayi harus menjadi perhatian bersama, khususnya para bidan desa yang lebih mengetahui kondisi ibu hamil di wilayahnya, guna mengantisipasi sejak dini terjadinya kejadian darurat.

Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo, Junaedi menyebutkan, sebaran kematian ibu lebih banyak terjadi di wilayah Kecamatan Kertek dengan empat kasus, kemudian disusul Kecamatan Kepil dua kasus, dan sejumlah kecamatan lainnya masing-masing satu kasus, seperti Wonosobo, Leksono, Watumalang, Selomerto.

"Dari jumlah kelahiran mencapai sebanyak 12.572 peristiwa, ada 10 ibu yang meninggal dunia," ungkapnya, baru-baru ini.

Sementara itu, dari jumlah kelahiran tersebut, kematian pada bayi mencapai sebanyak 130 kasus. Sebaran kasus terjadi di seluruh kecamatan di Wonosobo. Kasus terbanyak berada di wilayah Kecamatan Wonosobo, yakni mencapai 20 kasus. Kemudian disusul Kecamatan Garung, angka kasus mencapai 16 kasus, Kecamatan Wadaslintang terdapat 12 kasus, Kecamatan Watumalang terdapat 11 kasus dan Kecamatan Mojotengah terdapat 10 kasus.

Kecamatan lainnya, kasus kematian bayi di Kecamatan Kejajar dan Selomerto, masing-masing mencapai 9 kasus, Kecamatan Kertek ada 8 kasus, Kecamatan Kalibawang, Sapuran, Sukoharjo dan Kepil, masing-masing mencapai 6 kasus, Kecamatan Kaliwiro ada 5 kasus serta Kecamatan Leksono dan Kalikajar masing-masing 3 kasus. "Untuk kematian bayi hampir seluruh kecamatan terdapat kasus. Ini harus menjadi perhatian bersama, guna terus menekan angka kasus," tandas dia.

Lebih lanjut Junaedi menjelaskan, tren kematian bayi di Wonosobo sejak 2011-2017 mengalami naik turun. Pada 2011 lalu, angka kematian bayi mencapai sebanyak 182 kasus, 2012 turun menjadi 181 kasus, 2013 kembali turun menjadi 171 kasus, 2014 kembali ditekan sangat drastis menjadi 123 kasus, namun pada 2015 angka kembali mengalami tren kenaikan menjadi 126 kasus. Kasus kematian bayi kembali melonjak menjadi 165 kasus pada 2016, dan 2017 angkanya 130 kasus.

Dia mengharapkan, peran bidan desa semakin dioptimalkan, guna menekan angka kasus kematian ibu dan bayi. Para bidan dinilai memiliki peran strategis, karena mereka lebih dekat dengan lokasi masyarakat.

"Bidan harus punya data perkembangan ibu hamil di wilayahnya. Bahkan hari perkiraan lahir (HPL) ibu hamil harus sudah dikantongi, sehingga sebelum HPL tiba, bidan sudah mengingatkan dan memberikan sumbang saran agar ibu hamil melakukan persalinan secara baik," beber dia.

 

(M Abdul Rohman /SMNetwork /CN33 )