image
18 Desember 2017 | 22:38 WIB | EVENT

Komukino Festival 2017, Jajakan Kuliner Tradisional Langka

SEMARANG– Untuk kali ke enamnya,“Festival Komukino: Jawa Tengah Gayeng”,sukses digelar pada Minggu, 17 November. Diyakini bahwa event tahunan yang diinisiasi oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang ini bisa menjadi angin segar bagi eksistensi kesenian dan kebudayaan lokal yang selama ini cenderung kurang apresiasinya.

Memilih Monod Diephuis sebagai venue-nya, secara spesifik Komukino tahun ini digelar dengan tujuan untuk mengenalkan kebudayaan dari 35 kabupaten/kota yang dikemas dalam 6 (enam) karesidenan Jawa Tengah, yaitu Banyumas, Kedu, Pati, Pekalongan, Semarang, dan Surakarta. Yang cukup mencuri perhatian adalah tenant yang terdiri dari makanan-makanan tradisional dan hal lainnya seperti mainan yang serba bertemakan tradisional.

“Jadi festival ini memang sengaja kita bikin dengan konsep budaya. Kita juga nggak memungkiri bahwa kebudayaan sendiri memang masih belum bisa mendapat tempat tersendiri dihati kawula muda. Maka dari itu sesuai dengan namanya, Komukino, yaitu Komunikasi dan Inovasi, kita mencoba inovasi lain. Contohnya dimakanan yang kita jajakan. Kita coba menyatukan antara tradisional dan modern,” kata Aji Yusuf, ketua panitia saat press conference dengan awak media.

Salah satu yang cukup mencuri perhatian adalah nasi Glewo yang digadang-gadang hampir punah keberadaannya. Tak bisa dipungkiri bahwa ternyata memang belum banyak yang tahu bahwa Nasi Glewo adalah makanan khas dari Semarang. Cita rasa santan yang gurih ditambah dengan potongan daging koyor yang empuk ternyata mampu menimbulkan kesan yang beda dilidah para pengunjung.

“Tadi sudah mencoba nasi glewo sih. Enak kok enak. Gurih, santannya kerasa banget, dan koyornya juga jadi kayak nambah sensasi yang beda,” kata Afif salah satu pengunjung.

Adapun hal lain yang unik. Dalam gelaran ini, kita tidak akan bisa membeli atau menikmati makanan yang dijajakan dengan uang rupiah. Demi menambah kesan yang tradisional, maka digunakanlah uang Kartal yang mana bisa ditukarkan di pintu masuk.

Meskipun mengangkat kebudayaan lokal Jawa Tengah, tapi melalui Fajrianoor Fanani, pihaknya menyampaikan tak ingin terkesan mengotak-ngotakan sebuah kebudayaan yang ada di dunia.

“Kita tidak bisa memungkiri bahwa saat ini memang kebudayaan Jepang, ataupun Korea itu lebih eksis. Kita tidak memandang itu buruk. Karena sebenarnya tidak ada kebudayaan yang jelek. Semuanya bagus, tergantung bagaimana membungkusnya,” katanya saat jumpa pers, kepada awak media.

Selain hanya tenda makanan, dalam Festival Komukino ini juga ada beberapa acara seru dan menarik yang sangat amat sayang untuk dilewatkan. Beberapa diantaranya adalah Kampung Dolanan, Festival Jamu, Festival Batik, Lomba Karaoke, Lomba Tari, Workshop Fotografi, Charity.

Diharapkan bahwa hadirnya Festival Komukino semoga tak cuma membawa angin segar bagi perkembangan lini seni dan kebudayaan di Jawa Tengah, tapi juga bisa menjadi triger bagi anak muda untuk mulai memberikan tempat terhadap seni dan kebudayaan Indonesia di hati mereka masing-masing.

(Adib Auliawan /SMNetwork /CN42 )